Selasa, 15 Maret 2016

Awas! Patah Hati Picu Kerusakan Jantung Mematikan

Patah hati karena kecewa dalam kisah cinta sudah jamak terjadi. Namun tahukah Anda bahwa selain memengaruhi emosi, patah hati juga menyebabkan kerusakan jantung?




Sebagaimana dikutip Dream dari laman Radio ABC Australia, Jumat 4 Maret 2016, pakar jantung atau kardiolog menyimpulkan bahwa patah hati menyebabkan kerusakan jantung. Bahkan terkadang memicu kematian, meski kasusnya jarang terjadi.

Contoh yang belum lama terjadi adalah kematian kakek bernama NK Paliwak di Adelaide. Dia meninggal karena serangan jantung, tidak lama setelah mendengar kabar keluarganya tewas dalam kecelakaan di India. (Baca Juga : Cara Membuat Email Yahoo dengan Mudah)

Selain itu, pasangan atau suami-istri yang kehilangan belahan hatinya lebih besar risiko meninggal akibat serangan jantung beberapa hari, minggu, atau bulan, setelah ditinggal mati pasangannya.

Diduga, penyebabnya adalah adanya hubungan antara dampak hormon stres pada detak jantung, tekanan dan pembekuan darah.

Sindrom patah hati atau cardiomiopati stress terjadi ketika terdapat lonjakan adrenalin dari hormon stres memicu terjadinya peradangan pada bagian jantung.



Hal ini juga terjadi pada kondisi yang disebut dengan nama Takotsubo cardiomyopathy. Kondisi ini terjadi akibat bentuk abnormal jantung dampak dari lonjakan hormon stres yang membuat bentuk jantung menyerupai pot tradisional Jepang.

“Kita bisa menyuntikkan adrenalin ke seseorang dan memicu serangan jantung, ada banyak bukti yang menunjukkan pengaruh adrenalin dalam kondisi ini,” kata Profesor John Horowitz, kepala kardiologi di Rumah Sakit Elizabeth Queen Adelaide.

Diduga berlebihannya hormon stres pada dasarnya bisa menyengat jantung, tapi bagaimana persisnya kondisi ini terjadi tidak diketahui.

Meski memiliki gejala serupa dengan kasus serangan jantung pada umumnya, serangan jantung yang dipicu sindrom patah hati biasanya melibatkan penyumbatan.

Ini menjadi kondisi yang serius karena sebagian besar otot jantung untuk sementara melemah hingga ke titik tidak mampu memompa dengan benar. Berkurangnya fungsi otot jantung ini bisa berakibat fatal, menyebabkan serangan jantung, di mana sistem listrik jantung terganggu sehingga berhenti memompa.

Menurut studi yang diterbitkan dalam New England Journal of Medicine tahun lalu, emosi seperti kesedihan, kemarahan, atau kecemasan, tampaknya menjadi pemicu di hampir 28 persen kasus semacam ini.
Tapi, masih banyak yang harus dipelajari mengenai sindrom patah hati ini, terutama mengengenai pemicu yang bersifat fisik, seperti kesulitan bernapas yang parah atau infeksi yang mencakup 36 persen dari kasus sindrom ini. Sementara sekitar 28 persen kasus lainnya tidak teridentifikasi pemicunya sama sekali.

Beberapa “pemicu” –seperti kerusakan rumah atau argumen dengan tetangga yang tampak sepele, tapi pada orang yang rentan bisa memicu sindrom tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar